Depok- Buku kedua dari novel biografi MUHAMMAD, Para Pengeja Hujan. Dirangkai oleh tangan dingin Tasaro GK, penulis potensial Indonesia yang membawa kita seolah-olah sedang hidup bersama sang kekasih Allah. Ikut dalam perjuangan agungnya dan memahami resah hati sucinya.
Dua Laki-laki Berjubah
Memerah susu unta tidak dengan semangat yang biasa, pagi itu Syaimah selesai juga mengerjakan tugasnya. Kenyataan bahwa Saudara Makkah-nya akan meninggalkan Desa Baduwi membuat Syaimah kehilangan setengah semangat dan keceriaannya. Meski dia tahu kehidupan gurun akan terus berjalan, namun tetap saja keterikatan batinnya dengan Saudara Makkah sungguh membuatnya tak sanggup membayangkan tanpanya bagaimana hari-hari akan dijalani.
“Ibumu telah menceritakan kepada Ayah tentang kegelisahanmu itu.” Harits muncul dari pintu tenda. Dia membawa alat berburu yang hendak diasah. Menghampiri tempat dia biasa menajamkan senjata dengan langkah yang terhitung. Duduk di sana, kemudian. “Memang menyedihkan. Namun, engkau harus bangga. Setidaknya, seorang putra Makkah yang istimewa menjadi saudara sepersusuanmu.”
Syaimah menghampiri ayahnya. Duduk di sampingnya tanpa kata-kata. “Kita masih bisa mengunjunginya sesekali, Syaimah.” Harits tak segera memulai pekerjaannya. Dia malah mencondongkan badannya persis ke hadapan Syaimah. “Hidup kita mungkin akan terus berpindah-pindah, Ayah. Kapan sempat kita mengunjungi Makkah?” Syaimah memeriksa bekas gigitan Saudara Makkah di atas kulitnya. Dahulu dia meringis kesakitan, kini, bekas gigitan itu seperti tanda mata yang akan selalu mengingatkannya kepada Saudarah Makkah-nya.
Harits tak buru-buru menjawab. Dia berpikir dengan cara berpikirnya yang sederhana. Dia lelaki gurun yang tak biasa berpikir terlalu kompleks. Menggleng kemudian. “Ayah tidak tahu.”
Tidak seperti ayahnya, Syaimah lebih banyak ingin tahu disbanding anak Baduwi mana pun yang seusia dengannya. Gadis cilik yang sungguh banyak bertanya. “Menurut Ayah, mengapa ibu Saudara Makkah mempercayai Ibu untuk mengasuhnya?”
Harits lagi-lagi terdiam. Berusaha mengingat-ingat. Setidaknya seperti itu kesan diwajahnya. “Sore itu, ketika kami hampir saja kembali ke desa tanpa membawa bayi, ibumu mendatangi rumah saudara Makkah-mu. Kakek bayi itu menemui ibumu.”
Peristiwa empat tahun lalu kesannya telah begitu lama berlalu. Harits tampak masih harus berupaya untuk mengumpulkan setiap adegannya. “Dari mana asal anda?” kakek bayi itu bertanya. “Dari desa Baduwi,” jawab ibumu. Kakek itu tampak berkenan dengan cara ibumu berbicara. “Siapa nama anda?” ibumu menjawab pertanyaan itu dengan sopan dan suara yang halus. “Nama saya Halimah.”
Syaimah merasa ini kali pertama seumur hidupnya dia begitu menyukai cara ayahnya bercerita. Bukan karena pada waktu sebelumnya ayahnya bercerita dengan cara yang buruk, melainkan ayah anak itu jarang berkumpul dalam keadaan semacam ini.
“Kakek itu semakin tertarik dengan pembawaan ibumu, Syaimah. Dia lalu berkomentar. ‘Halimah nama yang bagus, artinya cantik dan mempunyai sifat yang baik.” Si kakek itu kemudian terus terang. “Saya punya cucu, tak seorang pun ibu asuh yang mau membawanya karena dia tidak punya ayah. Apakah anda bersedia menjadi ibu susu baginya.”
Harits menatap lekat wajah anak gadisnya. Seolah memeriksa bagaimana akibat dari ceritanya terhadap diri Syaimah. “Ibumu akhirnya bersedia menjadi ibu susu bagi cucu kakek itu. Saudara Makkah-mu.”
Syaimah berpikir sejenak. “Kakek itu terkesan pada cara ibu berbicara. Apakah orang-orang kota tidak bisa berbicara seperti kita, Ayah?”
Harits menggeleng. “Di kota, segala sesuatu sudah rusak, Syaimah. Mereka bahkan tidak bisa mengajari anak-anak berbicara dengan bahasa yang baik. Padahal, setiap orang tua mendambakan anak-anaknya menguasai bahasa yang indah. Sebab, nilai seseorang sangat ditentukan oleh kefasihan tutur kata mereka.”
Syaimah masih menyimak kalimat ayahnya dengan seksama. Sementara itu, Harits mulai merasa telah menemukan “panggungnya”-nya. “Puncak kefasihan adalah syair. Mempunyai seorang penyair hebat adalah kebanggaan tak ternilai setiap keluarga.” Harits meletakan dua telapak tangannya ke bahu Syaimah. “Tahukah engkau, penyair-penyair yang terkenal di kota hampir selalu berasal dari padang pasir? Sebab, orang-orang seperti kita berbicara dengan bahasa yang mereka anggap puitis dan penuh makna.”
Syaimah mengangguk bangga. Dia masih merasa merasa belum cukup mendengarkan kalimat-kalimat ayahnya ketika sosok ibunya keluar dari kemah. Berdiri di sana Halimah. “Syaimah, lama benar ‘Abdullah membawa bermain saudara Makkah-mu?”
Syaimah bersitatap dengan ayahnya. “Anak itu! Pasti ‘Abdullah ketiduran lagi selagi mereka beristirahat di sela bermain.”
Halimah mendatarkan telapak tangannya di pelipis. Melindungi pandangan dari silau matahari. “Bukankah ini sudah hampir tengah hari? Tidakah kalian khawatir terjadi sesuatu terhadap mereka?”
“’Abdullah tahu sejauh mana boleh bermain, Halimah. Tidak usah engkau khawatirkan,” Harits berkomentar datar. Dia tahu istrinya kadang terlalu melindungi anak susuannya. Sesuatu yang membuat dia senantiasa diliputi kekhawatiran.
“Bukankah itu ‘Abdullah? Syaimah yang duduk di sudut agak berbeda dengan ibunya bisa melihat sosok mungil yang berlari menuju kemah keluarganya. Mengapa dia pulang sendirian? Sesuatu telah terjadi.
Syaimah bangkit dan berlari menyambut kedatangan adiknya dengan jantung berdegup. Dia tahu ada sesuatu. Sebab, ‘Abdullah tidak pernah berlari sepanik itu, bahkan jika mereka sedang bermain kejar-kejaran. Selain itu, dia berlari sndirian saja. Ke mana saudara Makkah kami?
Rupanya Halimah dan Harits juga memiliki perhitungan yang tak beda. Seharusnya ‘Abdullah pulang berdua. Ini benar-benar tidak biasa.
“Apa yang terjadi mana saudara Makkah-mu, ‘Abdullah?” Halimah lebih dahului menghamburi anak lelakinya. Dia nerjongkok agar kepala ‘Abdullah sebaris dengan kepalanya. “Katakan kepada ibu.”
‘Abdullah terengah-engah dengan wajah sepucat tepung. Matanya merah menahan tangis. Tubuh mungilnya tersengal-sengal menahan beban paru-paru. “Ibu… saudara Makkah-ku.”
“Ada apa dengannya?” Halimah seketika merasakan dentuman di dadanya. Cukup sepenggal kalimat itu sudah membuatnya tergugup. “Katakan, ‘Abdullah.”
“Saudara Makkah-ku… Dua orang laki-laki merebahkan saudara makkah-ku ke tanah. Mereka melakukan sesuatu terhadapnya.”
“Melakukan apa?” Halimah semakin histeris. Harits merasa tulang belulangnya melolos, sedangkan Syaimah menutup mulutnya dan mulai menangis.
“Dua laki-laki bergamis itu membelah dadanya… lalu…,” pecah tangis ‘Abdullah tak tertahankan. Jemarinya memainkan ikat pinggang dan ujung baju ,aba-nya. “Lalu … tangan mereka mengeluarkan isi dada saudara Makkah-ku.”
Hampir pingsan Halimah mendengar penuturan anaknya. Jika tidak tertinggal sedikit rasa marah karena ada orang yang berani menyakiti anak susuannya, boleh jadi dia telah tergeletak tak sadarkan diri. Namun, kekhawatiran, kemarahan, dan keberanian membuat perempuan itu berpikir cepat. Meski dengan tangis yang tetap menyengalkan kalimatnya, dia buru-buru bangkit. “Syaimah, engkau jaga adikmu. Kembali ke kemah. Ibu dan Ayah akan mencari saudara Makkah-mu.”
Syaimah tak menjawab selain dengan anggukan. Tubuhnya terguncang dengan tangis yang menyiksa. Harits berjingkok di depan ‘Abdullah. “Tunjukan kepada Ayah, di mana saudara Makkah-mu berada?”
Masih dalam tangis yang tertahan, ‘Abdullah mengangkat telunjuknya, memberi panduan arah kepada ayah ibunya. Mengangguk, Harits lantas memberi tanda kepada Halimah untuk segera berangkat. Pasangan suami istri itu lantas berlari menuju tempat yang ditunjuk oleh anak laki-laki mereka.
Tidak ada pembicaraan, tidak ada keluahan. Keduanya hanya ingin segera menemukan saudara Makkah anak-anak mereka. Peluh tercucur, napas tersengal, dibiarkan. Berlari dengan kekhawatiran dan harapan yang dilangitkan. Ya, Tuhan, anak itu adalah keberkahan. Aku tahu engkau begitu melinduginya. Maka, lindungilah dia dari bahaya apapun yang mengancamnya. Halimah megulang-ulang harapan itu sembari sesekali mendongak di sela larinya yang tersaruk-saruk. Dia merasa sedang berbicara kepada tuhan.
“Itu dia!, Harits berteriak dengan kegembiraan bercampuran ketakjuban. Anak asuhnya berdiri kaku tak jauh dari batu dan tak tampak telah terjadi sesuatu yang mengganggu.
“Anakku!” Halimah memburu tubuh anak susuannya sementara tangis dan napasnya beradu dengan pilu. Dia memeluk anak itu, memastikan dia tidak terluka, lalu memeriksa sekujur tubuhnya. “Engkau tidak apa-apa, Nak? Apa yang terjadi padamu?”
Anak itu menatap Halimah dengan wajah pucat. Namun, tidak ada kesakitan yang tersiksa. Sedikit lebih mirip kekagetan. Dia berusaha berkata-kata. “Dua orang berbaju putih mendatangiku, membaringkanku, dan membelah dadaku untuk mencari sesuatu yang aku sendiri tak tahu.”
Tercekat Halimah oleh kalimat anak susuannya. Sama persis apa yang dia katakana dengan apa yang diutarakan ‘Abdullah, anak kandungnya. Siapa dua laki-laki itu? Halimah lalu memeriksa lagi tubuh anak itu. Tidak ada goresan luka pada dadanya. Tidak ada bekas darah sepercikpun. Hanya ada tanda oval kecil diantara dua punggungnya. Tapi, itu tanda yang telah ada sejak dia lahir. Bukan, ini bukan perbuatan dua lelaki itu. Lalu apa yang terjadi?
Tampa kesepakatan dengan istrinya, Harits segera berkeliling di sekitar tempat itu. Mengecek keberadaan dua laki-laki yang dikatakan ‘Abdullahh dan saudara Makkah-nya. Nihil, tidak ada jejak sekecil apa pun yang menandakan kehadiran mereka. Sesuatu yang lebih membuat Harits bertanya-tanya. Setelah memeatikan tempat itu benar-benar aman, dia mendekati istrinya. “Sebaiknya kita pulang Halimah.”
Halimah mengangguk. Matanya kian berjelaga. “Dan sebaiknya anak ini segera kita pulangkan kepada ibunya.”
Perjalanan
Pingback: Detik Terakhir Sukhoi Superjet 100 « tirtamizan
Pingback: Sketsa Sir Isaac Newton « tirtamizan